(Kisah nyata) Note's Facebook yang penuh inspirasi dari mba' Rina Amalina

4/04/2010 10:09:00 AM Posted In Edit This 17 Comments »

Seperti biasa saya ingin bisa berbagi dengan teman2 semua tentang sesuatu yang saya ketahui...
Langsung aja ya....
Kemarin waktu berkunjung ke Forum Kaskus.us saya menemukan sebuah Thread(
Hot Thread) berisi tentang catatan kisah nyata kehidupan seseorang berjudul “suamiku kini tlah tiada dan penyesalanku yg terus ada” yang diambil dari catatan Facebook atas nama mba' Rina Amalina.

Setelah selesai membaca catatan itu hati saya benar2 merasa sangat tersentuh. Saat itu juga saya langsung add Facebook mba' Rina Amalina & memintanya agar saya ikut ditandai di dalam catatannya itu biar teman2 di Facebook saya bisa membacanya juga, karena bagi saya dan mungkin bagi semua orang yang udah membacanya kisah dalam catatan tersebut pasti sangat
inspiratif...

Alhamdulillah akhirnya mba'
Rina Amalina mengconfirm dan bersedia menandai saya di Dalam catatannya itu,
Terimakasih buat mba' Rina Amalina... ^_^

Saya berinisiatif untuk meminta ijin mengopy catatan itu ke dalam Blog saya tercinta, tujuan saya agar saya juga bisa membagikannya ke teman2 yang lainya karena saya yakin catatan itu pasti sangat bermanfaat buat semua orang. Amien...

Selamat menyimak catatan(kisah nyata) yang penuh inspirasi dari mba'
Rina Amalina...


suamiku kini tlah tiada dan penyesalanku yg terus ada
30 Maret 2010 jam 14:05

Ini adalah kisah nyata di kehidupanku
Seorang suami yg kucintai yang kini telah tiada
Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku
Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku
Suamiku adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.

Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah,tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah.
Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku,tak mengerti aku,dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.
Tapi kini aku tahu.
Semua ucapanku selama ini salah.dan hanya menjadi penyesalanku karena dia telah tiada.
Temannya mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya.
Bahwa dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya.
Dia berkata, “ setiap kali kami ajak dia makan siang,mas anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali,alasannya slalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “ aku belum melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang.lalu bagaimana aku bisa makan siang.” Saat itu tertegun,aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga,tapi suamimu adalah sosok pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”
Aku menahan air mataku karena aku tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini aku sudah kehilangan sosok yang hebat.

Teringat akan amarahku pada suamiku,aku selalu mengatakan dia slalu menyibukkan diri pada pekerjaan,dia tak pernah peduli pada anak kita. Namun itu semua salah. Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi, “ perusahaan kecil CV.Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera. Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa,kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran. Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin,sosok yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu.”
Membaca itu,benar2 baru kusadari.betapa suamiku menyayangi putraku.betapa dia mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita.

Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “ ibu capai?istirahat dulu saja”
Dengan kasar kukatakan, “ ya jelas aku capai,semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak,urus cucian,masak,ayah tahunya ya pulang datang bersih.titik.”
Sungguh,bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.

Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya.tepat setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami. Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku.
“pak kenapa cari klinik yang termurah?saya rasa bapak bisa berobat di tempat yg lebih mahal dan lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula”
Dan suamiku menjawab, “ tak usahlah terlalu mahal. Aku cukup saja aku ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas.”
Tuhan..Maafkan hamba Tuhan,hamba tak mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga ini. Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada.

Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa.
Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari.
Banggalah pada suamimu,karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya.
Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana.
Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu.
Selagi dia kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar.
Dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.

Teruntuk suamiku.
Maafkan aku sayang.
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.
Aku janji pada diriku sendiri teruntukmu.
Putramu ini akan kubesarkan seperti caramu.
Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu.
Aku bangga padamu,aku sayang padamu.

Istrimu
Rina

Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara,teman,kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.


Source : Hot Thread kaskus.us
Facebook : Rina Amalina

17 komentar:

Raihduitptc mengatakan...

mantap sob...buat siapa saja untuk menjadi pelajaran

akhatam mengatakan...

Wah keren...!! semoga bisa jadi pemikiran bagi kita semua... Tx

Phuad mengatakan...

:'(

duniaira.blogspot mengatakan...

mbak! maaf ya....aku bisa copy! buat diblog ku untuk di share! pastinya ntar aku kasih link alamat mbak! tenkyu banget atas ijinnya

cpu mengatakan...

mantabs banget sob....

blog sederhana mengatakan...

nice infonya mbak
tukeran link ya mbak, linknya udah dipajang di http://planetdemam.blogspot.com/2010/01/teman.html

lina@women's perspectives mengatakan...

Sedih banget bacanya...
Kalau boleh, saya terjemahkan ke Inggris ya...buat di blog saya...

aliem mengatakan...

aku share ya mbak.. tak kasih link kesini..

galih a. mukti mengatakan...

Astaghfirullah....
membaca tulisan ini, semakin tidak tahu siapa saya sebenarnya... Adakah Engkau Ya Alloh, menunjukkan seseorang yang mampu mengenal dan mengajarku...
Kupanjatkan doa padaMu ya Robbi....

Kintaro kazami mengatakan...

nggrentes neng ati.... dalam semua kejadian pastia da maksutnya, dari sana kita jadi diberi suatu pelajran yang sangat berharga, suatu hal yang sudah disesali oleh seoranh istri, jangan sampai ada istri2 yanglaen yang bernasib sama dikarenakan hal yang sama pula... CMIIW

etikush mengatakan...

pesan moral dari surat tersebut sangat mulia.

surat tersebut juga sangat informatif, karena dari kisah hidup mba rina, saya jadi tahu bahwa di dunia ini ada pimpinan CV yang gak punya pembantu rumah tangga di rumahnya, sampai2 istrinya capai karena mengerjakan semua pekerjaan rumah, dan capai karena ngurus cucian.

kira-in cuma pengangguran kayak saya aja yang gak mampu bayar laundry kilo-an...

jatger mengatakan...

itulah biasanya kalau penyesalan datang belakangan, pengalaman berharga seperti itu menjadi pemacu bagi kita untuk selalu memberikan yang terbaik bagi suami/istri kita

Indonesia Furniture Handicraft Wholesale Marketplace mengatakan...

Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi dan aspirasi buat para isteri, dan wahai para suami jadilah sosok pemimpin sejati.

Salam,
Blog Clubbers

Anonim mengatakan...

Begitu banyak alasan bagi saya untuk mencintai istri dan anak-anak saya dan hanya sedikit alasan untuk membenci istri saya. Apakah itu?
Salah satu hal yang tidak saya sukai adalah bahwa istri saya sering cemburu buta dan bersikap kasar justru di saat saya membutuhkan kelembutannya.

Mystery of the World mengatakan...

pelajaran yg berharga bgt .
thanks ya udh share, bner2 nyntuh bgt ...

kartu kredit mengatakan...

Thank's sob telah berbagi info...mungkin kita bisa belajar menghargai apa yang kita miliki.

Lee Sa Nee mengatakan...

Numpang copas ya mbak....